http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=26893
18 Agustus 2008
Pionir Jalan Tol
SEBENARNYA Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang membangun jalan tol. Sejak 1978 Indonesia telah mulai membangun jalan bebas hambatan. Adalah tol Jagorawi yang pertama kali dibangun. Jalan sepanjang 59 kilometer yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi itu dibangun oleh PT Jasa Marga dengan memanfaatkan pinjaman dana asing.
Namun, menjadi pionir ternyata bukan berarti selalu menjadi yang terdepan. Dalam perkembangannya Indonesia justru jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.
Hampir tiga puluh tahun setelah pembangunan pertama jalan bebas hambatan, panjang jalan tol di seluruh Indonesia hanya mencapai 663,77 km. Dari jumlah itu, 515,47 km dioperasikan oleh PT Jasa Marga, sedangkan sisanya sepanjang 148,3 km dioperasikan oleh investor swasta.
Turun Drastis
Tahun 2008 ini, hanya ada tambahan pembangunan 55,65 km jalan tol yang siap beroperasi. Sisanya masih dalam proses yaitu tahap konstruksi (sepanjang 110 km), tahap penandatanganan PPJT (721,87 km), dan tahap proses lelang (239,06 km).
Jika dikalkulasi laju pertumbuhan jalan tol rata-rata 25,72 km per tahun. Namun itu sebelum masa krisis (1998).
Pada sepuluh tahun terakhir, pertumbuhannya menyusut drastis dan tinggal 9,25 km per tahun. Bahkan dari tahun 1998 hingga 2003 panjang jalan tol hanya bertambah 5 km.
Anga ini berbeda dari negara Asia lainnya. Malaysia yang baru mulai membangun jalan tol pada 1986 kini telah memiliki jalan tol sepanjang 1.230 km, dua kali lipat panjang jalan tol di Indonesia. Setiap tahun rata-rata pertumbuhannya mencapai 285 km.
Perkembangan pesat juga terjadi di Jepang. Kini jalan tol yang terhampar di Jepang tak kurang dari 11.520 km. China bahkan mampu membangun jalan tol sepanjang lebih dari 100.000 km hanya dalam waktu dua dekade.
Rata-rata pembangunan jalan tol di China sekitar 5.294 km per tahun atau 14 km per hari. Tak mengherankan bila kemudian negeri Tirai Bambu yang baru memulai pembangunan jalan bebas hambatan pada 1984 ini tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki jalan tol terpanjang di dunia.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, rasio jumlah penduduk dan panjang jalan di Indonesia berada pada urutan terendah. Indonesia memiliki rasio 2,5 km untuk setiap satu juta penduduk, sementara Malaysia telah mencapai besaran 55 km, China sebesar 77 km, dan Jepang 92 km.
Dana Terbatas
Lambatnya pertumbuhan panjang jalan tol membuat jalan-jalan bebas hambatan ini semakin padat. Data Ditjen Prasarana Wilayah, Departemen Kimpraswil menunjukkan adanya peningkatan kepadatan kendaraan di seluruh jalan tol yang ada.
Keterbatasan pemerintah dan kesulitan swasta untuk menggalang dana adalah faktor utama yang membuat laju pertumbuhan jalan tol di Indonesia seolah jalan di tempat.
Bagaimana pun untuk membangun jalan tol memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Menurut Jasa Marga, untuk membangun jalan tol sepanjang satu kilometer diperlukan biaya sebesar kurang lebih Rp 40 miliar. Maka untuk membangun 4.000 kilometer dibutuhkan dana tidak kurang dari Rp 160 triliun.
Dana sebesar itu tentu tidak bisa dengan serta merta disediakan oleh pemerintah. Karena itu pemerintah gencar menggandeng pihak swasta.
Selama ini pembangunan jalan tol di Indonesia memang masih didominasi oleh pemerintah melalui PT Jasa Marga (Persero). Sumber pendanaan diperoleh dari pemerintah (APBN), pinjaman luar negeri, Rekening Dana Investasi (RDI), dan obligasi.
Namun sejak krisis ekonomi melanda kemampuan belanja pemerintah jauh berkurang. Sekali pun Jasa Marga telah menerbitkan obligasi dan go public atau initial public offering(IPO), namun tetap saja kemampuan menghimpun dana yang dimiliki terbatas.
Di sisi lain upaya pemerintah menggandeng pihak swasta tidak mendapat sambutan yang begitu menggembirakan. Besarnya modal yang harus ditanam membuat investor berpikir ulang sebelum mantap terjun ke bidang ini. Apalagi modal tersebut baru akan kembali dalam waktu yang panjang. (Maratun Nashihah-77)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment